Website counter

Wednesday, June 10, 2015

PINJAM BUKU KIMIA, OM



     Masih ingat teman baruku yang nakal sewaktu SD kelas lima ?. (Baca : Gara-gara Surat) Pulang sekolah kami bertemu dalam mobil penumpang ST 20 setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Tidak seperti biasanya kali ini pulang sekolah  aku tidak dijemput papa. Meskipun rumah kami satu kompleks, namun pilihan sekolah kami setelah lulus SD berbeda. Saat ini kami sudah berseragam putih abu-abu, kelas 1 SMA.
     
      Mobil penumpang itu memiliki enam buah bangku yang menghadap ke depan di kiri kanannya. Dia duduk di barisan depan, aku di belakang tepat di samping pintu keluar. Ketika semua penumpang telah turun, tinggallah kami berdua di dalam mobil yang melaju diiringi lagu-lagu sendu milik Betharia Sonata yang sangat populer dimasa itu.
      Dia kemudian pindah duduk di bangku sebelahku. Aku menjadi grogi, teringat papa menjewer kupingnya dulu dan bagaimana senyum geli mamanya yang tak putus-putus melihat kami berdua disidang papanya. Dia memulai pembicaraan yang kemudian kujawab dengan kalimat-kalimat pendek, sampai sekarang aku masih malu bila mengingat kejadian itu.
     Mobil mulai memasuki wilayah desa kami, dahulu masih pinggiran kota. Ketika melewati tempat pertunjukan sirkus yang baru beberapa hari mengadakan pertunjukan di kota kami, dia berkata, “Kita nonton sirkus yuk sebentar malam……”. Aku terdiam, aku belum pernah nonton pertunjukan sirkus yang katanya datang dari Jakarta itu, padahal lokasinya hanya beberapa meter dari rumah kami. Tendanya besar sekali dan kata teman-teman pertunjukannya bagus sekali, ada gajah, ada harimau, ada sulap dan macam-macam. Aku dan adik-adik telah beberapa kali meminta papa untuk nonton, tapi kata papa sirkusnya masih lama, masih beberapa bulan lagi.
     Aku memencet bel, mobil berhenti, aku harus turun, “Sebentar aku jemput ya, kita nonton sirkus”, katanya lagi sebelum aku turun. Aku hanya tersenyum menanggapinya, lalu turun dari mobil. Di pikiranku hanya wajah papa…. dan sorot mata papa… ”Nanti aku yang bayar”,  katanya lagi sambil memencet bel. Mobil berlalu dan menurunkan dia di lorong sebelah.
       Hari sudah menjelang malam, hatiku gelisah. Kata-kata tadi terngiang di telingaku, sebentar aku jemput ya, kita nonton sirkus. Papa di mana ya ?, setelah sholat magrib, masih dengan kain sarungnya memegang sapu lidi. Pandangannya berputar-putar sepenjuru ruangan rumah kami. Kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, kembali ke ruang tamu. Seperti biasa papa sedang memburu nyamuk. Ekspresi wajahnya dingin, ingin membunuh semua nyamuk yang dilihatnya.
     “Assalamualaikum…..”, hatiku berdebar-debar. Aku berlari menuju pintu depan ke arah suara tadi, lalu membukanya. Terlambat, papa telah membuka pintu samping. “Wa alaikum salam….”, jawab papa. Dengan ekspresi wajah masih seperti tadi, sapu lidi di tangan kanan yang siap memburu nyamuk, beliau menatap tamu yang baru datang.
   

    Tamuku yang baru sedetik melihatku di depan pintu, menoleh ke kanan, kaget mendengar suara bass dari pintu samping. Beberapa detik ia tercekat melihat ke sapu lidi yang terkokang, papa mengangkat dagunya sedikit masih dengan wajah ingin memburu nyamuk. “Mau….eh….pinjam buku kimia, Om”, ujar tamuku terbata-bata sebelum ditanya. “Hmm….”, papa menurunkan sapu membuka lebih lebar pintu samping.
      “Icko, pinjam buku kimiamu dulu”, katanya beberapa saat kemudian setelah mengambil napas panjang. Aku segera ke kamar, mengambil buku kimiaku, kemudian menyodorkan padanya. Ia mengambil buku itu dengan lemas, “Permisi pulang dulu Om..” ujarnya pada papa. “Ya….” Jawab papa.
      Perasaanku bercampur aduk, kasihan, jengkel, lucu menjadi satu. Pelan-pelan cowok keren dengan kemeja lengan  panjang yang digulung sampai siku, celana panjang lengkap dengan sepatu, berjalan menenteng buku kimia kelas satu SMA dimalam minggu itu, sambil menundukkan kepala, menghilang di bawah rimbunnya pohon mangga di depan rumah kami.

No comments: