Website counter

Saturday, June 20, 2015

HATI AYAM



 “Ada apa ?, kenapa ?”, tanya suamiku menghentikan kunyahan dimulutnya dan menatapku heran. “Tidak apa-apa, makanlah”, kataku, “mungkin ada serangga masuk di mataku”, lanjutku pura-pura mengusap mataku.
Aku berusaha tersenyum, namun air mataku tak mampu menyembunyikan kesedihan itu. Suamiku menyantap makanannya kembali, sesekali matanya melirik. Aku melirik ke piringnya, ada hati ayam di sana, terbayang papa yang jauh di kampung halaman, hatiku makin sedih. Sementara di hadapan kami kedua mertuaku melanjutkan menyantap makanannya setelah tadi percaya dengan alasan menantu barunya.
Hati ayam, makanan itu merupakan makanan kegemaranku. Papa mengidentikkan aku dengan hati ayam. Meskipun mama  selalu membagi hati ayam menjadi empat bagian sesuai dengan jumlah anaknya, aku lebih sering mendapat lebih. Adik-adikku selalu menyumbangkan bagiannya padaku. Mereka tahu aku akan sangat berterima kasih untuk hadiah itu. Kadang hati ayam kubarter dengan paha ayam milikku dan mereka pasti setuju. Bahkan papa sering memberikan hati ayam semuanya padaku, karena adik-adikku tidak terlalu menyukainya sebagaimana aku.
Adik-adik mama, Om Uje, Om Ai dan Om Nunu, bila bertemu denganku bagaikan bertemu dengan hati ayam. Cerita tentang hati ayam pasti berulang lagi, ketika aku masih balita, tugas mereka mengejarku dengan piring yang isinya nasi dan tentunya hati ayam. Aku sampai bosan mendengar cerita itu. Bila tak mau makan, maka hati ayam dimakan paman-pamanku itu. Ketika mama dan papa datang mereka akan melapor, “Siap, hati ayam habis dimakan ponakanku tersayang….”
Sebenarnya kesedihanku tadi sama sekali tidak beralasan. Suamiku tentu saja tidak tahu menahu tentang cerita hati ayam yang begitu fenomenal dalam kehidupanku. Kami baru beberapa bulan menikah. Hari ini ulang tahunku, seperti kebiasaan mama, akupun memasak nasi kuning dan memotong ayam pada hari istimewa ini. Sengaja aku tidak masuk kantor.
Ketika suamiku pulang, di atas meja telah tersedia kare ayam, ayam goreng, dan nasi kuning. Mertuaku yang kebetulan datang mengunjungi kami yang bertugas di desa terpencil, juga ikut makan bersama. Awalnya semua menyenangkan sampai suamiku menyendok hati ayam. Entahlah, aku tiba-tiba berharap suamiku seperti halnya papa, menyendok hati ayam lalu meletakkan di piringku. Namun harapan itu terlalu berlebihan dan justru berbalik menjadi kecewa dan sedih yang mengiris ketika hati ayam itu diletakkan di piringnya sendiri.
Malam itu aku tak bisa tidur, desa ini tak ada listrik, gelap gulita. Hanya ada suara jangkrik dan lolongan anjing sesekali. Sebagai dokter, kami harus melewati masa tugas kami di daerah terpencil. Di depan desa kecil ini terbentang lautan luas, sementara di belakangnya gunung batu kadas bagai tonggak yang tertanam di bumi.
 “Mengapa tadi kau menangis ?” suara suamiku memecah kesunyian. Aku diam, apa yang harus kukatakan ?. “Aku tak percaya kalau ada serangga dimatamu, kalau ada dusta mungkin he…he…he…”, ia tertawa ditelingaku. Aku mulai tidak suka mendengar suara tawanya, terbayang hati ayam tadi siang.
“Kau tidak seperti papa !”, kataku ketus membalikkan badan. “Hah….kenapa aku harus seperti papamu ?”, kurasakan ia bangun terduduk di belakangku.
Aneh memang, jujur aku sendiri merasakan keanehan dari cara berpikirku. Sebagai seorang yang sudah dewasa dari segi umur,  sangatlah naif bila aku menginginkan suamiku harus seperti papa. Aku terdiam mulai menyadari kebodohan ini. Tapi hati kecilku merindukan papa, aku merindukan perhatian papa, aku mulai menangis terisak-isak.
 Suamiku membujuk dan mendesak agar aku menjelaskan apa yang salah. Perlahan aku mulai menceritakan bagaimana perhatian papa melalui hati ayam itu. Tentu saja masih dalam gelap sehingga aku tak dapat melihat bagaimana ekspresi wajahnya.
Sejak saat itu, sepanjang kehidupan pernikahan kami, hati ayam selalu menjadi bagianku. Aku tak mengerti, apakah memang hati ayam yang lezat ataukah perhatian papa atau suamiku lewat hati ayam yang ingin aku pupuk.
Beberapa tahun kemudian, ketika kami menghadiri suatu pesta, di depan meja prasmanan dan banyaknya tamu lainnya, suamiku menyendok hati ayam besar di hadapannya, kemudian meletakkan di piringku dengan tersenyum penuh arti.

No comments: