Website counter

Wednesday, June 17, 2015

MAHASISWA BARU




     Orang itu tidak berhenti bertanya, aku mulai merasa terganggu dan curiga, tapi papa menjawab pertanyaannya dengan bangga. Beberapa orang mulai melirik kami, “Sudah pa, tidak usah dijawab lagi”, kataku menarik tangan papa. “Tidak apa-apa dia hanya bertanya”, sahut papa.
      Aku segera berpindah ke salah satu sudut gedung besar itu. Sejak pagi, kami diminta berkumpul di gedung olah raga kampus. Kami memasukkan berkas-berkas dibeberapa loket yang dijaga petugas. Kulemparkan pandangan ke sekitarku, rata-rata mereka yang datang seumurku. Ada yang sibuk memelototi kertas di tangan, sebagian sibuk bercengkerama sambil berdiri. Tidak ada bangku yang bisa diduduki dalam ruangan ini, sejak tadi kakiku terasa capek.
    
    Ah….mungkin hanya papa yang paling tua di sini, gumanku mulai menyadari hanya aku dari sekian banyak mahasiswa ini yang diantar orang tua. Rasa risih menggangguku, pantas orang tadi begitu getol bertanya pada papa. Mungkin dari tadi ia memperhatikan kami, seorang gadis yang sudah lulus SMA, mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi diantar oleh orang tuanya. Ai….malunya. Aku ingin memanggil papa, tapi orang tadi masih di hadapan papa, ia melirikku sambil tersenyum menang karena papa tetap bersamanya.
      Dua hari yang lalu mama, adik-adik dan beberapa orang sepupuku mengantarkan kami ke bandara. Papa dan aku akan terbang ke kota di mana aku akan melanjutkan sekolah. Tidak mungkin aku berangkat sendiri, tak ada sedikitpun referensi mengenai kota yang akan kutuju. Ketika menjatuhkan pilihan pada fakultas dan universitas negeri yang ternyata menerima aku masuk, itu hanyalah pilihan. Aku tak pernah membayangkan akan seperti apa nantinya bila aku harus bersekolah sendiri di rantau, tanpa sanak saudara.
     Dan saat benar-benar menginjakkan kaki di kota itu, benar saja, untung ada papa. Banyak hal yang baru pertama kali aku temui, mulai dari logat bicara penduduk setempat yang terasa asing di telingaku, sampai kebingungan lainnya seperti mencari tempat tinggal, membeli baju untuk plonco atau posma dan sebagainya. Semua itu membuatku harus mengakui, untung ada papa. 
     Papa menemaniku mulai dari melapor ke universitas, membeli kemeja putih dan rok putih, mencari tempat kos di dekat kampus, mencari tempat tidur, lemari hingga mengunjungi sanak saudara yang tinggal di kota ini. Menurut papa hal itu penting agar aku tidak merasa sendiri di sini. Meskipun nanti aku tinggal di tempat kos, aku harus sering mengunjungi keluarga sebagai ganti papa dan mama. Tak lama setelah mengurus berbagai keperluaanku, papa pun pulang.
    
    Beberapa minggu kemudian, teman satu kosku memperlihatkan koran kampus. Di situ dengan lengkap tertulis namaku sebagai mahasiswa baru, dilengkapi wawancara dengan papa sebagai orang tua mahasiswa baru itu. Dialog aku dan papa dalam bahasa dialek kami pun ditulisnya. Ingatanku kembali ke beberapa minggu yang lalu. Orang itu, ya…orang itu yang banyak bertanya pada papa dalam gedung olah raga yang luas itu. Dia ternyata wartawan, dia telah memuat tulisan tentang aku dan papa di koran kampus. Alhasil, ketika posma tiba, aku dikerjain habis-habisan oleh senior yang telah membaca tulisan itu.
      Beberapa bulan kemudian, ketika menapaki jalan kampus bersama teman-temanku, aku melihat orang itu berjalan bersama teman-temannya. Refleks aku memanggilnya, “wartawan…. wartawan… ”. Ia menoleh melihatku, dengan cepat telunjuk dirapatkan ke mulutnya, ia mendekatiku, “Sssttt…..jangan ribut” katanya. Rupanya ia tidak ingin dikenal sebagai wartawan. Ia mahasiswa Fakultas Perikanan. Namun semenjak itu, bila aku bertemu dengannya aku akan memanggilnya, “wartawan…wartawan…..”. Hitung-hitung sebagai balasanku atas tulisannya yang menyebabkan aku dikerjain seniorku saat posma.

No comments: