Website counter

Saturday, June 13, 2015

CINTA PAPA DAN MAMA



  
    Sejak aku bisa merasakannya, cinta papa dan mama mewujud nyata dalam pandangan kami anak-anaknya. Pelajaran cinta itu kami dapatkan sehari-hari dalam kehidupan rumah kami. Sulit bagiku untuk dapat melukiskannya, cinta itu bukan sekedar kepatuhan istri pada suami atau sekedar tanggungjawab suami terhadap istri. Kira-kira cinta itu harus saling berpasangan, saling melengkapi, bagai siang dan malam, terang dan gelap, kertas dan pena, hujan dan panas, kursi dan meja, kompor dan kuali, ah….aku mulai ngelantur, yah…tapi kira-kira seperti itulah cinta papa dan mama.
     Rumah tangga mereka mungkin sama dengan rumah tangga yang lain, tapi mereka meramunya sedemikian rupa sehingga semua anggota keluarga bisa merasakan kehadiran cinta itu, bahkan semua orang di sekitarnya. Aku tidak pernah merasakan bahwa budaya paternalismendominasi rumah kami, padahal budaya itu cukup berperan pada suku kami. Sangat jarang kaum lelaki kami terlihat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Meskipun para wanita banyak yang telah mengenyam pendidikan tinggi, di rumah tugas istri mengabdi dan suami adalah bosnya.
     Tetapi yang aku lihat, mama dan papa berperan sama dan sederajat, selalu ada ruang untuk negosiasi bila berbeda pendapat.  Papa sama sekali tidak bersikap arogan. Meskipun sangat  terasa bahwa pemimpin rumah tangga adalah papa, namun pendapat mamalah yang menjadi bahan petimbangan utama papa dalam semua pengambilan keputusan, mama berperan sebagai  manajer semua bidang. Dalam masalah keuangan misalnya, sepanjang pengetahuanku, papa memberi uang dan mengontrolnya, mamalah manajer keuangannya, lengkap dengan buku laporan keuangan debet dan kredit. 
    Situasi ini mungkin bisa dianalogikan seperti kata para pakar otak saat ini, mereka bagaikan otak kanan dan otak kiri yang bekerja seimbang, sesuai fungsinya, saling melengkapi. Papa tidak segan-segan membantu mama mencuci pakaian atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Selama masa pertumbuhan kami,  papa dan mama terlibat secara aktif, bukan hanya salah satu. Papa bisa menyisir rambut kami, meminyakinya, bahkan mengurus kutu di rambut kami, memencetnya dengan kuku jempolnya, sampai papa yakin  tidak ada  kutu rambut lagi. Papa dan mama hampir setiap malam menemani kami mengerjakan PR dari sekolah.
      Ketika kecil terus terang aku merasa jengkel diurusi papa, apalagi bila kulihat tidak satupun dari teman-temanku yang papanya begitu sibuk mengurus anak-anak seperti halnya papaku. Papa menemani kami bermain bersama teman-teman di jalanan lorong kompleks. Papa hapal semua nama temanku dan adik-adik yang jumlahnya kira-kira dua atau tiga puluhan itu.
   
    Aku baru menyadarinya ketika temanku Grace, belasan tahun kemudian, mengatakan padaku, “Kau sangat beruntung memiliki papa yang penuh perhatian”. Grace ternyata memperhatikan sikap papa saat dia datang ke rumah dan mobil yang dikemudikannya mogok. Papa spontan mendorong mobilnya, dan menunjukkan sikap yang sangat peduli terhadap kesulitan Grace. Aku juga baru mulai merasakan kehilangan, setelah tinggal jauh dari papa. Tidak ada lagi seseorang yang sibuk mengusir nyamuk dengan sapu lidi, menemaniku belajar sampai tengah malam atau memarahiku bila aku nakal. Jika malam telah tiba, papa akan siap menggenggam sapu lidi untuk menghalau nyamuk mengisap darah kami, anak-anaknya. Walaupun jaman telah menyediakan produk-produk anti nyamuk yang bermacam-macam, tapi sapu lidi tetap menjadi andalan papa sampai saat ini, sampai di akhir usianya.
     
    Mungkin kepedulian papa inilah yang membuat mama tetap merasa nyaman meskipun seharian capek mengurusi rumah. Papa tidak pintar memasak, tapi papa selalu ada di samping mama, bukan semata-mata fisiknya, tetapi perhatiannya senantiasa dapat dirasakan. Kalau aku bisa jujur, itulah yang diidam-idamkan semua wanita di dunia ini, tak ada satupun yang bisa membebani kami kaum wanita, apabila ada cinta yang setiap saat bisa kami rengguk. Percuma segala macam teori tentang wanita dan pria, seperti  dalam buku ‘Venus dan Mars’ yang pernah menjadi best seller selama bertahun-tahun itu.
    Kecantikan, harta, jabatan ataupun anak bukanlah jaminan kebahagiaan. Begitu banyak rumah tangga yang punya segalanya, namun tak mampu menikmati cinta dalam arti yang sebenarnya, yang saling melengkapi, yang saling berpasangan dan saling memberi perhatian. Papa dan mama telah mengajarkan hal yang paling mendasar, yang seharusnya bisa menjadi pelita dalam kehidupan rumah tangga kami anak-anaknya.   

No comments: