Website counter

Thursday, June 4, 2015

PELAJARAN MENGARANG



      Hari telah semakin larut, coretan-coretan di hadapanku makin banyak. Tak ada ide yang cocok untuk mengungkapkan kata-kata dalam sebuah tulisan. PR mengarang yang diberikan ibu guru Semet belum ada satu kalimatpun, padahal telah empat jam aku duduk berharap ada sesuatu yang bisa aku tulis.
     
    Rambutku sudah semakin mekar karena kugaruk-garuk, kelopak mataku telah berat karena menahan kantuk. Mama tadi mengajari Nang adikku yang kelas tiga SD, mungkin sekarang mama sudah tidur bersama adik-adik. Papa belum pulang, sedang menghadiri undangan. Tadi sore aku mendengar tamu yang mengundang meminta papa untuk memberikan pidato.
     Kudengar suara mobil memasuki halaman rumah. Papa membuka pintu dan terkejut melihatku belum tidur. “Kenapa belum tidur ?”, tanya papa, membuka kopiahnya sambil berjalan menuju kamar. Aku makin menggaruk-garuk kepalaku dan memonyongkan bibirku, uh….PR mengarang ini benar-benar menjengkelkan, gumanku dalam hati.
      Beberapa saat kemudian, papa sudah muncul di balik gorden pintu kamar dan sudah berganti pakaian rumah. Sambil memutar-mutar gulungan kain sarung di atas perutnya, papa berjalan ke arahku. “PR apa, ini sudah jam sebelas nanti besok terlambat ke sekolah”, ujar papa.
    “Ini pa….PR mengarang, Icko tidak bisa mengarang”, kataku langsung menguap lebar-lebar. Aku benar-benar sudah mengantuk. “Apa judulnya ?”, tanya papa seraya menarik kertas di hadapanku. Belum sempat kujawab, papa telah membaca judul yang kutulis dengan huruf besar di atas kertas, “Cita-citaku”, papa meletakkan kembali kertas itu di hadapanku, kemudian masuk ke kamar. 

     "Tulislah !”, papa keluar kamar dengan menggenggam sapu lidi. Malam itu sambil sesekali menghentakkan sapu lidi di tangan kanannya dan mondar-mandir di hadapanku, papa mendikte dan aku mulai menulis PR mengarang yang diberikan ibu guru Semet, wali kelasku di kelas lima. “Alinea baru……kemudian dari pada itu…. ” ujar papa dan aku mulai menulis lagi dalam kantuk yang amat sangat.
      Benar saja, keesokan harinya aku bangun terlambat. Segera aku mandi, memakai baju seragam kemeja putih dan rok ungu lipit-lipit. “Ko, ayo sarapan dulu”, kudengar suara mama memanggil. Sambil meletakkan tas sekolah di pundakku, aku berlari ke meja makan, di sana sudah ada Nang dan Ois dengan seragam yang sama, mereka telah selesai makan. Aku segera menyendok nasi goreng. Sambil makan aku memeriksa kembali PR mengarang tadi malam, “ Astaga naga…..” pekikku tertahan. “Ada apa ?”, mama yang sedang memasang sepatu Ois, terkejut. Kulihat wajah mama tidak mengerti, “Tunggu di depan ya”, kata mama pada Nang dan Ois, yang kemudian berlari ke depan.
      Mama kemudian menghampiriku, “Ini bukan mengarang, ini pidato, mama!”, kataku benar-benar ingin menangis. Aku kemudian menceritakan tentang PR mengarang yang semalam didikte papa. Aku memperlihatkan karangan yang telah selesai itu, tapi mama tidak membacanya, “Pergilah, tidak apa-apa, cepat, nanti terlambat”.
      Eri, ketua kelas kami mulai mengumpulkan PR mengarang. Ragu-ragu aku mengeluarkan karangan itu. Kata-kata dalam karangan itu seperti kata-kata dalam kertas-kertas pidato papa. Kalau tidak kukumpulkan, berarti aku tidak membuat PR, tapi kalau aku kumpulkan juga, apa yang akan dikatakan ibu guru ?.
     Eri menarik buku mengarang di tanganku, aku terkejut, aku tak bisa menentukan pilihan. Mudah-mudahan tulisan itu bisa berubah, semoga ada peri yang akan mengayunkan tongkatnya seperti cerita-cerita dongeng dalam komik Hans Christian Andersen. 
       Sudah satu minggu yang lalu, PR itu dikumpulkan. Ibu guru memanggilku ke depan kelas, “Sebentar ada lomba mengarang tingkat SD se Kota Manado, kami para guru memilih kamu untuk ikut mewakili sekolah. Cepatlah pulang dan minta ijin orang tua, nanti ibu guru yang akan mengantar ke tempat lomba”. Aku benar-benar tidak percaya, bagaimana mungkin…. oh…. bagaimana aku menjelaskannya pada ibu guru ?. Oh….peri yang baik hati apakah kau telah menyulap pidato itu menjadi karangan yang indah ? Tapi bagaimana aku sampai terpilih mengikuti lomba mengarang ini ? Apa yang akan aku tulis ? Haruskah aku memanggil papa sekali lagi untuk membantuku membuat pidato ?
      Banyak sekali anak-anak yang mengikuti lomba ini. Beberapa anak telah mengambil tempatnya masing-masing. Kami duduk di bangku kayu yang sebelah kanannya ada tempat untuk menulis. 
    
    Ada beberapa judul yang bisa dipilih. Tentu saja tanpa pikir panjang aku memilih judul ‘Cita-citaku’. Semua anak diantar gurunya, tetapi para guru menunggu di luar. Kami diberi beberapa helai kertas, dan ketika lomba mengarang dimulai, seperti yang sudah bisa diduga, aku tak bisa apa-apa. Aku berusaha keras mengingat-ingat karangan yang didikte papa seminggu yang lalu, hanya sebagian, itupun tidak beraturan. Lomba mengarang selesai, aku mengumpulkan kertasku. Ibu guru menghampiri sambil tersenyum, aku hanya tersenyum kecut.
     Beberapa hari kemudian pemenangnya diumumkan, yang pasti tidak ada namaku. Mungkin juara terakhir dari seluruh peserta SD se Kota  Manado.
    Beberapa tahun kemudian, tak kuduga, aku bertemu ibu guru Semet setelah aku selesai kuliah dan bertugas di Puskesmas. Suami ibu guru, yang ketika aku SD masih kuliah di Fakultas Kedokteran, kini telah menjadi Kepala Puskesmas dimana aku ditugaskan. Rumah mereka di samping Puskesmas itu. Sebagai orang baru, ibu guru memperkenalkan aku pada staf puskesmas lainnya, “Ini dulu muridku, dia sangat pintar mengarang…..”. ????

No comments: