Website counter

Saturday, June 20, 2015

DIHIPNOTIS



     Aku baru saja tiba setelah sekian lama tak mengunjungi papa dan mama. Kami bercerita di atas tempat tidur ketika telpon berdering, mama bangkit dan mengangkat telpon itu. Seperti biasanya bila aku datang, papa dan mama selalu mengajakku tidur di antara mereka berdua untuk mendengarkan cerita-ceritaku.
    Sebenarnya dulu semasa sekolah, aku selalu bercerita hanya dengan mama, namun belakangan papapun ikut tertarik menikmati cerita-ceritaku. Dengan wajahnya yang keriput, papa akan tersenyum-senyum mendengar ceritaku. Papa jarang tertawa seperti mama, tapi kalau tertawa papa bisa sampai menangis, karena geli.
   
Tak lama kemudian adik-adikku datang, kami berpindah ke ruang tamu. Baru kusadari papa tidak memegang telpon genggam. “Mana handphone papa ?”, tanyaku pada papa. “Oh ada, tapi sudah rusak”, kata papa sambil berlalu ke kamar dan kembali lagi dengan handphone di tangannya. Aku menimang-nimang handphone itu, terlihat tua dan kusam. Itu handphone pertamaku, kubeli ketika handphone mulai trend dan perlahan tapi pasti menjadi kebutuhan semua orang.
    Beberapa tahun yang lalu, aku memberikannya pada papa. Kini handphone itu sudah rusak, jadi papa tidak memakainya lagi. Papa tetap menyimpan handphone rusak itu karena mempunyai kenangan. Papa kemudian bercerita pernah dihipnotis orang.
      Ketika itu hari masih pagi, papa sedang naik motor sendiri, seseorang memanggilnya, “Pak haji mau ke mana ?”. Papa menoleh, ada dua orang yang berboncengan di motor, mereka tersenyum dan lagaknya seperti sudah lama mengenal papa. Papa meminggirkan motornya dan berhenti di pinggir jalan. Keduanya berjabat tangan dengan papa. Mereka meminta dompet, papa memberikannya. Mereka bertanya, “Apalagi pak haji yang ada di dalam saku ?”. Papa mengeluarkan handphone tua itu, mereka kemudian mengambilnya. Mereka pamit pada papa dan berlalu.
    
    Beberapa detik kemudian papa tersadar. Papa mencoba mengejar kedua orang itu, namun sudah tidak kelihatan, hilang di tengah keramaian lalu lintas. Papa sudah pasrah, yah kalau sudah saatnya hilang tak apa, bisik hati papa. Handphone itu sudah sering ngadat, tetapi banyak nomor telpon sahabat papa di dalamnya. Dompet itu hanya berisi uang seribuan, tetapi ada kartu-kartu penting papa di situ.
     Papa sudah ikhlas ketika sebuah suara memanggilnya, “Pak haji…pak haji….”, papa menoleh, kedua orang tadi ada di belakang motor papa. Mereka memberikan dompet dan handphone itu pada papa sambil meminta maaf.
     Sambil mendengar cerita papa, aku membayangkan wajah si tukang hipnotis yang merampok papa ketika menyadari hasil rampokkannya. Uang seribuan yang ada di dompet papa dan handphone tua yang tak layak lagi dipakai, bahkan si perampokpun gengsi untuk menggunakannya. Kami semua tertawa mendengar cerita papa. Papaku yang sederhana, hingga si perampokpun merasa tak tega untuk tidak mengembalikannya. Padahal dompet dan handphone itu bisa saja dibuangnya, mengapa mereka harus repot-repot mengembalikannya pada papa ? Mereka tentunya harus memutar balik motornya untuk menemui papa diantara banyaknya kendaraan. Dan papa yang sudah dalam keadaan sadar setelah tadi di hipnotis, kemungkinan bisa berteriak melihat mereka lagi.
     Beberapa hari kemudian akupun berangkat untuk melaksanakan tugasku. Disela-sela waktu tugasku, aku berusaha mencari handphone baru buat papa. Di Jakarta banyak model yang bisa aku pilih, yang tentunya dapat memenuhi selera orang tua seperti papa. Kupilih handphone yang jika setiap waktu shalat secara otomatis akan mengumandangkan azan dan ada lantunan ayat-ayat suci Al Quran. Ketika datang lagi dan memberikan handphone baru itu, papa sangat senang.
     Sebenarnya papa bisa saja membeli handphone baru dengan uangnya sendiri, tapi papa merasa sudah ketinggalan tehnologi, tidak percaya diri dan bahkan tidak mengerti jenis handphone yang bagaimana yang akan dipilihnya di toko nanti. Memakai handphone juga paling hanya untuk menerima atau menelpon. Papa bingung kalau ditanya si penjual handphone, model apa yang akan dibeli. Papa tidak paham dengan banyaknya kecanggihan yang disediakan oleh benda kecil itu.
     Handphone baru yang ada lantunan Al Quran itu setiap saat diputarnya. Jika waktu shalat tiba, handphone itu akan mengingatkan papa untuk shalat. Kegembiraan kecil dimasa tua adalah menerima telpon dari anak-anak dan cucu-cucu.
    
     Senang sekali melihat kegembiraan itu terlukis di wajah tua papa. Entah apa lagi yang bisa kuberikan agar dapat mengimbangi apa yang telah papa berikan padaku. Sampai saat ini aku merasa tak dapat membalas semua yang telah dilakukan papa sejak aku dilahirkan. Meskipun papa tak pernah meminta apa-apa, aku ingin bisa memberikan banyak kebahagiaan seperti yang pernah papa berikan padaku.
     Hanya beberapa bulan setelah menikah, aku mengikuti suamiku bertugas di daerah lain. Sepertinya waktu yang tersisa dipenghujung usia papa, semakin pendek bagiku untuk mencurahkan apa yang sekiranya dapat kuberikan. Oleh karena itu, aku selalu berusaha untuk singgah mengunjungi papa dan mama, meskipun sebenarnya setiap saat aku bisa menelpon dan mendengar suara mereka.
     Setiap kali aku datang, setiap kali itu juga kulihat perubahan fisik yang semakin menua, mulai dari uban yang semakin banyak, tubuh yang menjadi semakin kecil dan keriput. Aku semakin menyadari tak ada yang bisa kuberikan pada papa dan mama untuk mengimbangi apa yang telah mereka berikan padaku. Meski hanya untuk menemani di masa tua mereka, aku tak mampu. Setiap saat aku selalu dikejar oleh ritme kehidupanku sendiri. Kasih sayang papa dan mama tak terbalas, sekeras apapun usahaku untuk menggapainya…..

No comments: