Website counter

Sunday, May 31, 2015

TELEVISI



         Kami semua mengelilingi benda itu, meja bukan, lemari bukan juga. Bentuknya kotak persegi, berkaki empat seperti meja, tetapi ada pintu seperti lemari. Kami anak-anak bertanya-tanya benda apakah ini ? Apa gunanya ? Papa dan mama hanya tersenyum.
       

       Teman-temanku makin banyak yang datang ingin melihat, wajah mereka juga bingung seperti aku. Kami mencoba meraba-raba kotak itu sambil berharap bisa menebak benda apa ini. Papa kemudian membuka pintunya, ternyata cara membukanya sangat berbeda dengan lemari. Papa hanya menarik pegangannya ke samping, hingga pintu yang terlipat-lipat itu mengumpul di kiri kanannya. Nampaklah kaca cembung yang berwarna abu-abu di balik pintu yang telah terbuka itu. Ooo….dengan segera aku teringat foto ketika aku masih bayi bersama papa dan mama di Jakarta. Di foto itu terlihat bentuk kaca yang sama dengan yang ada di depanku saat ini. Mama pernah menjelaskan padaku, benda itu namanya televisi. Sayang kata mama, di kota ini siarannya belum dapat ditangkap, sehingga kami tidak bisa menonton televisi.
        Pelajaran di sekolahku menyatakan, televisi tidak termasuk kebutuhan primer ataupun sekunder. Kata bu guru, televisi itu kebutuhan tersier, sama seperti halnya rekreasi. Tapi kata mama, di Jakarta banyak orang yang telah memilikinya, televisi bisa menjadi gudang ilmu, banyak sekali informasi yang bisa ditemukan seperti halnya surat kabar atau radio. Tetapi televisi gambarnya bisa bergerak, seperti bila kita menonton di bioskop. 
       
      Rasanya lama sekali menunggu malam tiba. Kata papa, siaran televisi nanti malam baru dimulai. Setelah sejak tadi sibuk memasang antena di atas atap rumah, papa tidur-tiduran sambil membaca koran. Aku dan teman-teman masih sibuk membicarakan televisi di teras rumah, kami duduk membentuk lingkaran. Kira-kira apa ya yang bisa kami tonton ? Apakah Dina Mariana dan Adi Bing Slamet bisa dilihat di televisi ? Selama ini kami hanya bisa mendengar suara mereka dari tape recorder. Pernah sekali waktu aku melihat wajah Adi Bing Slamet dalam mobil yang melewati jalanan dari Bandara menuju Kota Manado. Ia hanya melambai-lambaikan tangan ke arah kami, anak-anak yang berdiri di pinggir jalan raya.
      Dibanding teman-teman, aku memiliki sedikit pengetahuan mengenai televisi, karena mama sering menceritakan padaku bila kami sedang melihat-lihat album foto lama. Jadi hari itu akupun menjadi narasumber utama dan teman-teman menyimak penjelasanku dengan berbinar-binar. Nampak jelas angan mereka melambung tinggi ke awan mendengar ceritaku.
       “Ayo semua pulang, mandi dulu”, terdengar suara papa, “nanti selesai magrib, kita nonton televisi”. Kami saling berpandangan penuh harap, seperti dikomando serempak kami bangkit, teman-temanku pulang ke rumah masing-masing, sementara aku dan adik-adik langsung sibuk mencari handuk. Sambil menggosok-gosok sabun di tubuhku, aku mulai menyanyikan lagu-lagu penyanyi cilik idolaku, “Kelinciku…kelinciku….kau manis sekali….”.
      
     Sejak saat itu, setiap malam rumah kami penuh orang, tua muda, besar kecil, pria wanita tak mau ketinggalan. Ada yang duduk di kursi, ada yang duduk di lantai, bahkan banyak yang tiduran di depan televisi. Rumah kami seperti bioskop dan kami senang dengan keramaian itu. Keramaian yang sangat jarang terjadi di kompleks kami. Meskipun siarannya hanya sampai acara ‘Dunia Dalam Berita’, kami sudah senang sekali. Bila kaca televisi sudah seperti hujan gerimis maka papa akan mematikan kotak berkaki empat itu, dan para tamu akan beranjak pulang. Kompleks perumahan kamipun sepi kembali.
       Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, siaran televisi makin beragam. Banyak tetangga yang juga sudah memiliki televisi. Di sekolahku pelajaran telah berubah, televisi bukan lagi kebutuhan tersier, televisi kini ada di setiap rumah, lebih baik tak punya radio dari pada tak punya televisi. Kalau sebelumnya permainan sepak bola hanya bisa dinikmati dengan mendengarkan komentar dari radio, sekarang papa senang sekali menonton pemainan sepak bola di televisi. Menonton bersama, sambil mendengarkan komentar reporter sepak bola ‘Sambas’, merupakan kegembiraan yang tiada terkira, “Gol…gol…goool”.
       Di kompleks kami, antena televisi terlihat bagai tiang-tiang kapal yang menjulang di atap-atap rumah. Tahun berganti tahun, televisi dan antenanya semakin mengalami evolusi. Saat ini anak-anakku tinggal memencet tombol remote control, siaranpun seketika berganti. Ah….indahnya mengenang masa kecil…..

No comments: