Website counter

Sunday, May 31, 2015

PENATA RAMBUT

     Dengan agak malu-malu aku melangkah ke kelas, teman-teman menatapku. Mereka kemudian mengerubutiku. Ada yang bertanya, sebagian lagi memegang-megang rambutku dan menatapku heran. Pak Guru yang baru masuk ke kelas, menatapku terbelalak.
  
      Pagi itu aku muncul dengan penampilan yang tidak biasa. Rambut  keriting. Kemarin sepulang sekolah, mama mempraktekkan ilmu menata rambut di kepalaku. Bersama seorang guru kursus yang beberapa hari ini sering datang ke rumah, mama mulai menggunting rambutku. Ibu guru kursus itu adalah teman lama mama.
      Beberapa hari yang lalu, ia datang mengunjungi mama. Kulihat mereka bercerita di ruang tamu. Keesokan hari, ia datang dengan peralatan penata rambut. Awalnya mama diberi teori tentang cara menggunting rambut. Ibu guru itu selalu memuji-muji mama, katanya mama cepat sekali pintar menerima ilmunya. Selama ini aku tahu mama memang pintar, apalagi kalau membantuku membuat PR berhitung. Kata mama, dulu di sekolahnya kalau murid tidak bisa berhitung, guru akan menyuruhnya memilih rotan-rotan yang tergantung di depan kelas. Rotan itu ada dalam berbagai ukuran, mulai dari yang berdiameter kecil sampai yang besar. Makanya mama selalu berusaha keras untuk belajar berhitung, perkalian dan pembagian harus dihafal, agar tidak disuruh memilih rotan dan dipukul oleh guru.
       Dulu ketika adik-adikku belum lahir, mama bekerja. Saat itu mama dan papa sekantor di Jakarta, Ketika adikku Nang lahir, papa meminta mama untuk berhenti bekerja. Kesibukan mengurus dua anak batita, membuat keputusan itu merupakan hal yang terbaik. Namun mama tidak pernah berhenti belajar, mama sangat gemar membaca dan mempunyai segudang hobby. Mulai dari menyanyi, menjahit, memasak hingga membuat berbagai kerajinan tangan, semuanya dikuasai mama dengan baik.
      Ketrampilan yang kuperoleh dari sekolah sering kuajari pada mama dan kami buat bersama-sama. Mama akan membeli bahannya kemudian membuat sendiri untuk dihias di rumah kami. Bunga dari benang wol, taplak meja dari selang, boneka dari kain perca atau dari benang wol, sulaman-sulaman aplikasi hingga menyulam kroistik, selalu ku buat bersama mama. Semua hasil kerajinan tangan itu sampai saat ini masih menghiasi rumah kami.
       Kemarin, ibu guru kursus penata rambut teman mama itu, meminta mama untuk melakukan praktek setelah pelajaran teori diberikan. Aku yang baru bangun tidur sore itu, langsung menjadi kelinci percobaan. Rambutku diutak-atik mama dan guru kursus itu. “Ya…ini diangkat dulu, ditarik….okey, yang lurus ya….”, kres….kresss…kudengar suara gunting mulai memotong rambutku. Aku meminta cermin, agar aku dapat melihat hasilnya. Mama memberikan cermin, tetapi tak lama kemudian mengambilnya lagi. Rupanya karena ingin melihat hasilnya, aku memutar-mutar kepalaku dan mengganggu konsentrasi mama.
       Setelah digunting, rambutku yang lurus itu kemudian dikeriting. Mama mengambil sedikit rambutku, membungkusnya dengan kertas, lalu menggelung rambutku pada suatu alat yang terbuat dari plastik berwarna merah muda dan ada karet yang berwarna hitam untuk penahannya. Sambil menggelung rambut, mama menyemprotkan cairan yang berbau sangat busuk. Aku mulai merasa mual dan mau muntah. Mama dan tante itu menahanku agar tidak lari. Mereka kemudian menutup kepalaku dengan handuk. Akupun dilepas dengan kepala yang baunya menyengat itu. Kata tante si guru kursus, “Didiamkan setengah jam, lalu diperiksa dulu, kalau sudah jadi dibuka semua, namun kalau rambutnya kebal, ditambah sepuluh atau lima belas menit lagi”. Katanya rambutku tebal, jadi mungkin butuh waktu yang lebih lama.
       Hari sudah menjelang malam ketika tante itu pulang. Aku agak khawatir, bagaimana dengan rambutku ?. Tante itu meyakinkan aku, bahwa mama sudah tahu prosesnya. Setengah jam kemudian rambutku diperiksa mama, tapi katanya belum jadi, mama kemudian menggelungnya kembali. Lima belas menit kemudian rambutku dibuka. Aku tercengang menatap di cermin, rambut yang tadinya lurus sudah menjadi kriwil-kriwil. Aku protes, tapi mama mengatakan belum selesai, masih akan digelung dengan gulungan rambut yang besar.
     Aku membungkuk di kamar mandi, kemudian rambutku dicuci mama, caranya masih sangat primitif. Setelah itu aku kembali duduk di kursi, mama mengipas-ngipas rambutku agar cepat kering. Tidak ada hair dryer, jadi kepalaku dikipas seperti ikan bakar. Setengah kering rambutku kemudian digelung dengan gulungan rambut yang besar dan berduri-duri. Dikipas lagi, lama sekali, aku sudah tidak betah duduk. Punggung dan leherku sudah pegal, berulang-ulang mama menyuruhku duduk tegak, tak boleh bergerak. Benar-benar perjuangan yang melelahkan menjadi kelinci percobaan.     
      Setelah melewati berjam-jam di kursi praktek itu, hasilnya sangat mengejutkan. Rambutku yang memang sudah tebal dan banyak, makin mengembang dan bergelombang. Sepertinya seorang anak kelas empat SD yang muncul dalam cermin itu, bukan aku. Kepalaku tampak bagai ibu-ibu pejabat yang kulihat di surat kabar, dengan rambut yang disasak tinggi bergelombang. Seandainya di masa itu sudah ada cara  rebounding seperti saat ini, pasti aku minta rambutku direbounding saja, biar kembali menjadi lurus. Sekarang aku harus menunggu waktu yang sangat lama untuk kembali seperti semula.
     Aku pura-pura tidak peduli ketika Pak Guru mondar-mandir di sisi mejaku sambil melihat ke arah rambutku. Mungkin beliau heran, ada ibu gubernur yang tersesat di kelasnya.

No comments: