Website counter

Saturday, August 12, 2017

ADAT KAHUWA DI NEGERI SALEMAN


Aku baru saja beberapa hari menginjakkan kaki di Negeri Saleman untuk mengikuti suamiku yang sudah bertugas beberapa bulan di sini, sebagai dokter Puskesmas. Tetua Negeri Saleman datang ke rumah dinas kami dan memberi kain berwarna merah untuk kami pakai pada acara yang telah mereka persiapkan, sore hari nanti. Kain merah itu digunting menjadi 4 helai, ada yang digunakan untuk ikat kepala, ada yang pakai sebagai selendang dan ada juga yang dipakai sebagai kain bawahan untuk suamiku. Sedangkan aku sendiri disarankan untuk menggunakan kain batik berwarna merah sebagai rok dan atasan berwarna putih.




Meskipun agak merasa sedikit risih, namun kami sangat menghargai keseriusan dan ketulusan mereka mengadakan acara ini untuk kami. Acara ini di kenal sebagai  Adat Kahuwa. Negeri Tua Saleman yang terletak di Teluk Saleman Pulau Seram Maluku, memiliki tradisi yang sudah diwariskan turun temurun. Salah satu tradisi mereka adalah Adat Kahuwa, yaitu suatu upacara adat yang dilaksanakan bagi warga pendatang di Negeri Saleman, untuk menjadi warga Saleman secara sah. Adat Kahuwa hanya dapat dilaksanakan setelah ada keputusan bersama dari semua tetua Negeri Saleman dan ternyata kami dianggap memenuhi syarat untuk menjadi Orang Saleman.


Sore harinya, beberapa orang menjemput kami. Dengan pakaian adat lengkap kami menuju lokasi yang telah dipersiapkan. Semua orang tampak menggunakan kain berwarna merah. Laki-laki bertelanjang dada, menggunakan topi merah yang meruncing tajam dan hiasan kalung dari kulit kerang. Kakiku dipasangi gelang yang juga terbuat dari kulit kerang. Semua tampak riang gembira menyambut kedatangan kami. 


Tidak lama kemudian acara dimulai. Dengan menggunakan bahasa daerah yang tidak kupahami sama sekali, upacara Adat Kahuwa dimulai. Setelah beberapa kata, yang mungkin seperti pantun berbalas, acara dilanjutkan. Kami digiring menuju ke tempat yang sudah dialasi daun pisang dan di atasnya sudah diatur potongan-potongan kelapa. Satu per satu kami mengambil potongan kelapa untuk dimakan dan kemudian diberi minum air kelapa secara bergilir dari batok kelapa yang sama. Kami mengikuti semua prosesi adat itu. 



Tak lama kemudian gendang dan tifa, alat musik tradisional masyarakat setempat, mulai dibunyikan. Orang-orang mulai membentuk lingkaran dengan bergandengan tangan. Langkah-langkah kaki tanpa alas menghentak-hentak ke tanah, beriringan bersama alunan musik yang dimainkan tanpa henti. Dari tempo yang lambat, semakin cepat hingga melompat-lompat, memberi sensasi kegembiraan yang tiada tara. Kami pun larut dalam "Tarian Adat Kahuwa" bersama masyarakat Negeri Saleman hingga larut malam. 




Beberapa ibu-ibu berbisik padaku, "Sampai akhir hayat, Ibu dokter tak akan mungkin bisa melupakan kami, Orang-orang Saleman dan Petuanan Negeri Saleman". Dan mungkin itu benar, karena hingga kinipun setelah berlalu 20an tahun, aku masih saja ingin kembali ke Negeri Saleman, negeri yang cantik di timur Indonesia.